Minggu, 12 Agustus 2007

Eksotisme Pulau Biawak IV


Memancing Hingga Subuh

Selain menawarkan berbagai pesona dan keindahan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, Pulau Biawak juga memberikan kenyamanan bagi mereka yang menyukai hobi memancing. Bagaimana tidak, untuk mendapatkan ikan ditempat ini, cukup bermodalkan sebuah kail dengan pemberat, ikan-ikan kecil untuk umpan dan tentu saja kesabaran yang paling utama. Namun ditempat ini, tidak usah menunggu lama, karena ikan-ikan sangat mudah dipancing. Bahkan bisa dikonsumsi untuk sarapan pagi, ketika konsumsi yang dibawa mulai habis.

Setidaknya itulah yang dirasakan, ketika pertama mencoba melemparkan kail dari dermaga, sambil menikmati keindahan matahari terbenam. Laut yang mulai pasang naik, membuat ikan-ikan karang banyak yang berenang kepantai. Setelah sorenya menyelam dan snorkling, memancing menjadi salah satu kegiatan yang mengasikkan.

Setelah mencari tempat yang strategis menurut pendapat masing-masing, akhirnya Sindo mendapatkan tempat untuk memancing di ujung kiri dermaga. Sedangkan rombongan lain, memisahkan diri mencari tempat yang menurut mereka nyaman.

Berbeda dengan pemancing profesional, yang memancing dengan kosentrasi tinggi, bahkan tidak berbicara. Tidak demikian dengan situasi memancing di Pulau Biawak, yang diikuti oleh tiga media Jakarta dan dua media dari Indramayu. Memancing benar-benar terasa menyenangkan, apalagi ditambah dengan celotehan bercanda yang tidak habis-habisnya mengalir.

Satu demi satu, rombongan mulai berteriak senang, karena kail yang mereka lemparkan berhasil mendapatkan ikan. Demikian pula dengan Sindo, tidak beberapa lama, ikan pertama yaitu kakap merah, berhasil ditangkap dan memancing menjadi semakin menarik. Hingga tidak terasa, jarum jam menunjukkan angka tiga pagi, dan satu demi satu rombongan jatuh tertidur bergelimpangan di dermaga.

Tidur di dermaga, sambil memandang bintang-bintang dilangit, atau menikmati hembusan angin, lebih nyaman memang, dari pada tidur di wilayah pulau, namun dikelilingi nyamuk-nyamuk yang tidak henti mengigit. “Tidur di dermaga saja. Lebih enak dan tanpa nyamuk,” kata salah satu peserta dari media di Jakarta.

Hal itu ditanggapi oleh peserta lain, yang membawa pelampung dan menjadikannya alas untuk tidur. Namun sayang ketika sedang asik tidur, mendadak hujan turun dengan derasnya, hingga akhirnya rombongan, bergegas meninggalkan dermaga dan melanjutkan tidur di rumah kayu yang telah dibersihkan sebelumnya. (bernadette lilia nova)

Tidak ada komentar: