Minggu, 12 Agustus 2007

Eksotisme Pulau Biawak II



Tidak Sesuai Brosur

Ada yang unik, atau mungkin bisa dikatakan aneh dari perjalanan menelusuri Pulau Biawak, yang ternyata hanya didiami oleh tiga atau kadang-kadang empat orang penghuni saja. Karena sebelumnya di atas kapal, sambil menikmati hembusan angin dan birunya air, ditingkahi ombak-ombak kecil yang saling berkejaran, rombongan mendapatkan brosur menarik, yang dibagikan oleh Anak Buah Kapal (ABK). Akhirnya sebuah brosur dengan kertas hard paper berwarna keunguan, yang dikeluarkan oleh Dinas Perikanan Dan Kelautan Kabupaten Indramayu, Jln Pabean Udik No 1, seakan memberikan janji tentang fasilitas yang bakal ditemukan di pulau tersebut.

Di dalam brosur, berbagai fasilitas menarik hadir, tentang apa saja yang bisa ditemui, diantaranya, bangunan pusat informasi kawasan konservasi dengan pemandu wisata, panduan informasi zonasi berupa leaflet, radio SSB, ruang audio visual, ruang dapur dan kamar mandi. Ternyata apa yang dihadirkan dalam brosur sama sekali berbeda dengan kondisi Pulau Biawak yang sebenarnya. Di dalam brosur juga ditemukan fasilitas penangkaran biota laut yang terdiri dari tujuh bak penangkaran, dua unit genset, dua pompa air laut, airator blower dan ruangan operator. Namun fasilitas itu hanya ada di brosur semata.

Jika dalam brosur terpampang dengan tulisan indah, fasilitas-fasilitas menarik, di pulau itu sendiri, hanya terdapat tiga bangunan rumah, yang dua diantaranya dihuni oleh pejaga mercusuar. Bangunannyapun mulai keropos disana-sini, karena cuaca. Bangunan lain yang bisa ditemui dilokasi hanyalah sebuah rumah kayu dan bangunan penangkaran biota laut yang terletak agak jauh di dalam hutan, namun tanpa fasilitas dan kedua bangunan tersebut kosong tidak terawat.


“Kita juga tidak tahu kalau pulau tersebut kondisinya sama sekali berbeda dengan yang terdapat dalam brosur. Karena yakin ditempat itu ada fasilitas macam-macam, akhirnya kita tidak membawa perlengkapan yang memadai. Bahkan kita hanya membeli dua dus mie instant dan satu dus air mineral,” kata Kabid Informasi Departemen Kelautan dan Perikanan, Pusat Data Statistik Dan Informasi, Asri Setiawati.

Terlepas dari brosur yang tidak cocok dengan kondisi yang ditemui dilapangan, keindahan Pulau Biawak sendiri, tidak membuat semangat untuk menjelajahi pulau atau menyelam dikedalaman laut musnah. Namun tidak adanya fasilitas yang memadai seperti dalam brosur, malah membuat rombongan semakin bersemangat menyusuri atau menyaksikan langsung pesona Pulau Biawak dari dekat.

Setelah beristirahat sejenak disebuah pos yang berada di belakang dermaga, rombongan dipandu oleh penjaga mercusuar, Slamet Rianto menuju mercusuar dengan ketinggian 65 meter yang dibangun tahun 1872 silam. Dikelilingi oleh potongan-potongan baja yang diatur seakan menjadi penopang menara, Slamet juga mengajak rombongan menuju ruang mesin, tempat lampu menara dinyalakan. “Dari ruang mesin lampu dinyalakan. Kita memiliki tiga mesin, namun sering rusak. Kalau sudah rusak, terpaksa kita naik ke atas mercusuar dan menyalakan lampu petromak,” kata Slamet.

Tidak adanya fasilitas listrik dan hanya mengandalkan tenaga genset semata, membuat tiga orang penjaga mercusuar harus berjaga secara bergantian untuk mengantisipasi matinya genset. “Namanya juga pengabdian. Kalau lampu sampai mati, kasihan juga kapal-kapal yang lewat malam hari. Sebenarnya kita ditempat ini bertiga, namun karena petugas satu lagi sedang ke Indramayu jadi kita dipulau hanya bertiga dengan istri Sumanto,” kata Slamet menambahkan.

Usai menikmati kemegahan mercusuar peninggalan Belanda, ketika sore menjelang, biawak-biawak yang menjadi ikon pulau tersebut, mulai berkeliaran mencari makanan. Untuk menarik perhatian biawak, salah satu penjaga mercusuar, B Sumanto TL, mengambil jala dan menebarkannya dipantai pulau nan bening. Setelah mendapatkan ikan-ikan kecil, Sumanto kembali diikuti rombongan menuju posko. Dan menebarkan ikan-ikan kecil di jalan setapak dipinggir hutan. Tidak lama menunggu, satu demi satu biawak mulai bermunculan dan datang memakan ikan-ikan kecil yang disebarkan. “Di pulau ini, ada lebih kurang 400 biawak. Diantaranya ada 40 biawak yang jinak,” kata Sumanto.

Memberi makan biawak dan menunggunya melahap ikan-ikan yang disebarkan, menjadi hiburan yang menarik dipulau tanpa penerangan listrik apalagi televisi ini. Setelah memberi makan biawak, acara dilanjutkan dengan mengunjungi tiga makam orang-orang terkenal dimasanya, yang berada di tengah hutan pulau nan eksotis ini. Tiga makam itu dkenal dengan makam Syeh Syarif Khasan dan makam Belanda. “Dulunya Syeh Syarif dari Cirebon terdampar di pulau ini, tidak lama beliau sakit, kemudian meninggal dan dimakamkan ditempat ini,” terang Sumanto.

Berbeda dengan makam Syeh Syarif Khasan yang dibangun menyerupai rumah, lengkap dengan atap dan pintu masuk, makam Belanda di tempat ini, hanya berbentuk tugu segi empat. “Kalau makam Belanda adalah orang Belanda yang meninggal ketika membangun mercusuar. Kuburan ini banyak dijadikan tempat orang-orang bersemedi meminta berkah,” terang Sumanto lagi. (bernadette lilia nova)

Tidak ada komentar: