Selasa, 18 November 2008

Pulau Renda 2

Mangrove Dan Kearifan Lokal


Tidak mudah mengubah sebuah tradisi. Apalagi jika berhubungan dengan hajat hidup masyarakat. Namun berkat kecintaan terhadap laut dan lingkungan disekitarnya, masyarakat Suku Bajo di Pulau Renda mampu mengubah kebiasaan yang telah mengakar turun temurun. Perubahan yang dilakukan mulai dari cara menangkap ikan dengan pengeboman menjadi pembuatan keramba tancap.



Kebiasaan lainnya yang juga berubah drastis pada masyarakat adalah kemampuan menghargai alam. Ditandai dengan kemauan untuk menanam dan menjaga mangrove. "Kalau tidak ada pelatihan dan penyuluhan, saya sama sekali tidak tahu apa itu mangrove. Saya juga tidak tahu bagaimana menanam rumput laut," kata Pengawas Koperasi Bungin Sikalangkah yang juga warga Pulau Renda Rasman.

Berkat kepedulian masyarakat, kini disekeliling pulau telah ditanam ribuan batang mangrove. Penanaman pertama dilakukan tahun 2006 sebanyak 16 ribu pohon dan dilanjutkan tahun 2007 sebanyak 20 ribu batang mangrove. "Agar jerih payah penanaman mangrove tidak sia-sia, masyarakat diberi ganjaran bila menebang atau merusak pohon. Ganjaran bisa berupa pengambilan barang-barang hingga penyitaan kapal," tambah Rasman lagi.

Berkat mangrove yang telah mulai tumbuh disekeliling pulau, ditambah peraturan yang kemudian menjadi kearifan lokal, kini masyarakat sudah bisa menikmati hasil dari mangrove yang mereka tanam. "Dengan adanya mangrove yang mulai tumbuh, masyarakat bisa mendapatkan rajungan dan bisa menangkap ikan dengan mudah. Itu juga menjadi tambahan mata pencarian bagi mereka," ujar dia.

Penanaman bibit mangrove di Pulau Renda bukan tanpa alasan. Pulau Renda yang dalam bahasa Bajo berarti pulau yang terapung dipilih karena pinggir pantai pulau ini menjadi tempat favorit bagi ikan-ikan untuk bertelur. "Itu salah satu alasan mengapa kita memilih Renda, Alasan lainnya adalah dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya yang terdekat, Renda adalah pulau paling tertinggal dibidang ekonomi," Kata Sekretaris DKP Kabupaten Muna La Djono.

Ditambahkan Djono, sejak adanya mangrove, rumput laut dan keramba tancap, masyarakat sama sekali tidak pernah lagi mencari ikan dengan bom ikan. Kearifan itu sesuai dengan tulisan yang bisa dilihat di gerbang pulau. Tulisan itu berbunyi tamakaya alah patanansta itu baka xasisibodangka pagai. Kasalaxatang ampohra tika kabala alah. Dalam bahasa Indonesia berarti kita pelihara lingkungan tempat tinggal kita dan sekitarnya, untuk keselamatan kampung kita dari bencana alam. (bernadette lilia nova)


Sabtu, 18 Oktober 2008

Minahasa Selatan



Pesona Air Hangat Pantai Moinit

Indonesia memiliki sumber daya alam nan memikat. Salah satu yang belum tersentuh adalah Pantai Moinit dengan mata air hangat di pantainya.

Menginjakkan kaki di Minahasa Selatan, suasana terasa benar-benar berbeda bila dibandingkan dengan Manado yang hanya berjarak 1,5 jam berkendara dengan menggunakan mobil. Di Manado proses pembangunan dikebut untuk menyongsong World Ocean Converence (WOC) Mei 2009 mendatang, termasuk dengan mereklamasi pantai dan membangun gedung-gedung baru yang membuat Manado memiliki wajah yang sangat modern.


Sedangkan Minahasa Selatan sebagai daerah baru, yang baru lima tahun menjadi kabupaten, kini juga sudah mulai sibuk dengan pembangunan sarana dan fasilitas untuk umum. Walaupun masih belum sebanyak di Manado, sarana umum yang bisa ditemui di jalan lintas Minahasa Selatan menuju Gorontalo terdapat tempat peristirahatan yang dibangun ala negeri-negeri barat yang modern.


Keunikan lainnya dari Minahasa Selatan adalah pemandangan alamnya yang indah. Hamparan bukit yang menghijau, lembah-lembah yang dalam juga pantai membuat Minahasa Selatan menjadi daerah yang memiliki sumberdaya yang lengkap. Mulai dari hasil pertanian, perikanan hingga pertambangan, daerah ini memilikinya.


Dari sekian banyak objek wisata di Minahasa Selatan, yang patut dijadikan referensi ketika berkunjung adalah keunikan Pantai Moinit. Dari pusat kota Minahasa Selatan, Amurang, dibutuhkan 15 menit perjalanan. Sesuai dengan namanya, Pantai Moinit terletak di Desa Moinit. Mendekati pantai ini, suasana semakin berbeda, karena pantai ini teduh dengan ditumbuhi pohon besar yang seakan menjadi penjaga pantai.


Dengan pasir halus dan pinggir pantai yang teduh, menjadikan Pantai Moinit banyak dikunjungi oleh wisatawn lokal apalagi pada hari-hari libur nasional. "Kita memiliki banyak sumber daya alam. Salah satu yang paling menarik adalah Pantai Moinit dengan mata air panas di pinggir pantai," kata Bupati Minahasa Selatan RM Luntuntungan.


Pantai Moinit, jika dilihat sepintas hampir sama dengan pantai-pantai lainnya di Indonesia. Hamparan air yang membiru, ombak yang saling berkejaran di pantai semua sama dengan pantai pada umumnya.


Namun jagan salah, di pantai ini, mengalir dari dalam bumi sebuah mata air hangat yang dianggap masyarakat berasal dari Gunung Soputan yang masih aktif. Untuk menemukan mata air hangat yang mengalir satu meter di bibir pantai tersebut tidak sulit. Karena 100 meter di depannya sudah di bangun tempat peristirahatan untuk pengunjung berupa pondok-pondok kecil.


Bagi pengunjung yang baru pertama kali datang, akan kesulitan menemukan mata air hangat yang mengalir bercampur dengan air laut tersebut. Karena untuk merasakan air hangat yang mengalir diantara ombak, kaki harus sedikit ditenggelamkan kedalam pasir karena mata airnya yang tertutup pasir. Jika telapak kaki telah menyibakkan sedikit lapisan pasir, air hangat akan mengalir deras dan semakin lama semakin panas.


"Pantai Mionit adalah salah satu pantai paling unik di Minahasa Selatan juga di Indonesia. Tidak ada pantai yang memiliki keunikan seperti di pantai ini," tambah Bupati yang juga musisi tersebut.
Untuk kedepannya, Rm Luntungan mengaku akan membangun berbagai sarana bagi kepentingan masyarakatnya. Karena menurutnya, Minahasa selatan memiliki kekayaan alam yang sangat kaya. "Tahun depan target kita pelabuhan internasional sudah rampung. Selain memudahkan masyarakat juga memberikan peluang kepada investor asing agar menanamkan modal di Minahasa Selatan," katanya.


Lebih lanjut ditambahkan RM Luntungan, objek wisata lainnya yang masih terus dikembangkan di Minahasa Selatan adalah areal pertanian seperti agro wisata dengan aneka tanaman seperti kentang, jagung dan stroberi. "Stroberi kita masih berusia tiga bulan. Target kita beberapa bulan mendatang kita akan panen sekaligus menjadikannya sebagai objek wisata," tutrnya. (bernadette lilia nova)

Utamakan Sarana Fisik

Selain hadir dengan pemandangan alam yang elok, dengan gunung, lembah dan laut, yang tidak kalah menarik di Minahasa Selatan adalah pembangunan fisik yang terus ditingkatkan. Salah satu sarana paling penting yang tengah dikebut adalah pembangunan tempat pengisian bahan bakar untuk masyarakat pesisir dan pembangunan sarana umum lainnya.


Hal tersebut cukup beralasan, karena masyarakat pesisir atau masyarakat nelayan adalah pilar utama untuk menjaga kelangsungan dan kelestarian lingkungan laut. Selain itu bagi mereka laut adalah sumber penghidupan dan mata pencaharian. Agar memudahkan para nelayan mendapatkan bahan bakar, untuk kapal-kapal, Departemen Kelautan Dan Perikanan (DKP RI), meresmikan Solar Packed Dealer Nelayan (SPDN) di Desa Mobongo, Kelurahan Kawangkoan Bawah, Kecamatan Amurang Barat, yang diresmikan oleh Dirjen KP3K DKP RI Syamsul Ma'arif.


Bahkan dilokasi yang sama, tahun 2009 mendatang sebuah pelabuhan internasional akan diremikan. Sekarang masih dalam tahap pembangunan. "Dengan adanya pelabuhan internasional di Minahasa Selatan, masyarakat kita tidak usah lagi membawa hasil panen ke luar kota lewat jalur darat yang panjang," kata Bupati Minahasa Selatan RM Luntungan.


Pentingnya keberadaan SPDN di pesisir disambut hangat oleh para nelayan di sepanjang pantai Teluk Amurang. Karena selama ini, masyarakat baru bisa mendapatkan bahan bakar untuk kapalnya di Manado. "Dengan SPDN ini, masyarakat nelayan jadi lebih mudah mendapatkan bahan bakar. Dengan adanya SPDN ini saya yakin nelayan bisa meningkatkan hasil tangkapannya," kata masyarakat Desa Mobongo Kuswara Amandalu.


Antusias masyarakat pesisir di Desa Mobongo menyambut diresmikannya SPDN di desa mereka ditunjukkan pula dengan menggelar permainan musik bambu yang dikombinasikan dengan terompet berukuran besar yang di Betawi dinamakan Tanjidor. "Selain potensi alam, kita juga mengangkat kesenian tradisional sebagai salah satu unggulan di daerah ini," katanya. (bernadette lilia nova)

Minggu, 14 September 2008

Manado 1

Bunaken Tidak Sebesar Namanya

Terkenal dengan keasrian terumbu karang dan aneka biota laut, Bunaken tetap menjadi daya tarik wisatawan untuk diving ataupun snorkeling. Walau tidak lagi sebesar namanya.

Angin sepoi-sepoi bertiup ramah, membuat perjalanan di Manado, Sulawesi Utara terasa menyegarkan. Kubah-kubah bangunan ibadah yang berwarna gading, menjadi penambah keelokan kota yang terkenal dengan sebutan Tinutuan atau Kota yang terkenal dengan Bubur Manadonya tersebut.

Hamparan birunya air laut dari Teluk Manado yang masih terus direklamasi, membuat wajah Manado semakin cantik dengan bangunan serba modern yang terus dibangun di pinggir-pinggirnya. Tanah hasil reklamasi di Manado digunakan untuk membangun ruko, padahal seharusnya digunakan untuk sarana pariwisata, namun secara umum, Manado adalah kota yang cantik dengan pemandangan alam termasuk lautnya yang memikat. Namun mengunjungi Manado, belumlah lengkap jika belum datang dan menikmati pagi hari di Taman Laut Bunaken.


Dari pusat kota Manado, pengunjung harus menyeberang dengan menggunakan kapal bermotor.Dibutuhkan waktu lebih kurang 45 menit untuk sampai di kawasan yang semakin terkenal ke dunia internasional karena keberadaan ikan purba bernama Choelachant, yang telah hidup sejak 400 tahun lalu dan hanya bisa ditemui di kawasan laut ini. "Untuk sekarang ikan purba di Bunaken masih tersisa sekitar enam ekor saja. Kepurbaan seekor ikan ditandai dengan siripnya yang masih terdiri dari tulang," kata Kepala Seksi Rehabilitasi Ekosistem Laut DKP RI Sadarun.

Birunya laut dengan air yang nyaris tanpa gelombang berarti, membuat penyeberangan menuju Bunaken menjadi perjalanan yang menyenangkan. Apalagi jika menyeberang dilakukan pagi hari. Matahari yang masih malu-malu dengan sinarnya yang redup, membuat penyeberangan terasa nyaman dan menyenangkan.

Sebuah dermaga bertuliskan Taman Laut Bunaken lengkap dengan peta Pulau Bunaken menjadi penyambut para tamu yang datang. "Setiap bulan berapa jumlah wisatawan yang datang kita data. Bahkan untuk Mei tahun ini saja bisa mencapai 1.135 wisatawan," kata Manager Visitor Center Taman Laut Bunaken Yusuf Kasehung.
Tercatat Taman Laut Bunaken memang menjadi salah satu daerah konservasi andalan di Indonesia. Selain wisata bahari seperti diving dan snorkeling, Pengunjung juga bisa mendaki Gunung Manado Tua yang juga terdapat di kawasan taman," tambah Yusuf.


Bagi mereka pecinta diving, kawasan konservasi yang memiliki luas 89,65 ribu hektar termasuk laut ini, juga memiliki 48 spot diving atau titik-titik selam yang memiliki terumbu karang dan biota laut yang bervariasi. Sedangkan bagi pengunjung yang tidak ingin basah namun tetap ingin menikmati pemandangan bawah laut, tersedia pula sebuah kapal dengan kabin terbuat dari kaca, sehingga pengunjung tetap bisa menikmati pesona bawah laut tanpa susah payah menyelam atau snorkeling.

Lewat kapal impor dari Australia yang bernama Sapsi dengan kapasitas 32 penumpang tersebut, ikan-ikan hias dan terumbu karang bisa terlihat dengan jelas. Sehingga keindahan sekaligus kerusakan karang bisa terlihat dengan sangat jelas. Demikian pula ketika rombongan Dirjen Kelautan menaiki kapal dan memasuki buritan. Keindahan laut Bunaken yang terkenalpun segera terhampar di depan mata.

Selama 45 menit di dalam Sapsi, laut Bunaken memang terlihat. Namun sayang sekali terumbu karang di kawasan ini mulai banyak yang mati ditandai dengan karang-karang yang mulai memutih. "Penanganan secepatnya harus dilakukan. kalau tidak terumbu karang kita akan semakin hancur," kata Dirjen KP3K DKP RI Syamsul Ma'arif.


Langkah awal yang harus dilakukan menurut Syamsul Maarif adalah pendekatan dengan masyarakat agar bisa menjaga dan memelihara laut dan semua kekayaan di dalamnya. "Karang yang telah rusak sebenarnya bisa saja kita perbaiki dengan pencangkokan karang. Namun hingga kini masih tetap menjadi kontroversi," katanya.

Lebih lanjut ditambahkannya, setelah melihat terumbu karang selama 45 menit di Bunaken, jelas sekali kerusakan yang terjadi rata-rata disebabkan oleh kesalahan manusia selain virus yang menyerang karang yang dinamakan Virus Blecing. "Walaupun sudah ada yang rusak, namun masih banyak spot diving di Bunaken yang indah. Sebelum ikut rusak tugas pemerintah dan masyarakat adalah menjaganya," ujarnya. (bernadette lilia nova)

foto by Bernadette Lilia Nova

Manado 2

Gugah Kesadaran Lewat Konferensi

Sebagai negeri bahari terbesar di dunia, sudah saatnyalah Indonesia memiliki komitmen yang kuat untuk menjaga dan melindungi kekayaan bahari yang dimilikinya. Pemeliharaan itu bisa saja dilakukan dengan membuat kebijakan tentang laut. Misalnya kebijakan yang berfungsi untuk melindungi kekayaan yang dimiliki atau mengeluarkan peraturan untuk melindungi sumber daya tersebut.


Salah satu cara melindungi laut dan kekayaan di dalamnya Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP RI), menggelar Konferensi Nasional (Konas VI) tentang Pesisir dan lautan 26-29 Agustus di Manado, Sulawesi Utara. Konferensi yang diikuti oleh 500 peserta tersebut sekaligus menjadi ajang promosi dan pembelajaran bagi masyarakat Manado, karena dalam konferensi tersebut juga digelar Pameran Sumber Daya Laut dari 15 propinsi di Indonesia.

"Yang bertanggung jawab pertama kali terhadap laut di negeri kita adalah kita sendiri. Tidak mungkin orang luar dulu yang membantu jika laut kita mengalami kerusakan," kata Menteri Kelautan dan Perikanan RI Fredy Numberi.
Dalam Pameran Sumber Daya Laut Indonesia tersebut, setiap propinsi menampilkan produk unggulan laut dari daerahnya masing-masing. Seperti peserta dari Propinsi Sulawesi Selatan. Propinsi ini menampilkan tiga kabupaten yaitu, Maros, Takalar dan Kabupaten Pangkep dengan hasil laut seperti rumput laut, kepiting dan kesuksesan menanam 4.500 mangrove di pantai-pantainya, untuk menjaga agar pantai tidak mengalami abrasi dan menjadi tempat biota laut bersarang. "Sulawesi Selatan memiliki laut yang luas. Selain menjadi objek wisata, laut harus bisa dimanfaatkan dengan maksimal," kata Teknisi Pusat Informasi Spasial Propinsi Sulawesi Selatan Zulkarnain.
Selain mengikuti pameran-pemeran kelautan berkelas nasional demi menyadarkan masyarakat tentang pentingnya laut, Pusat Informasi Spasial Propinsi Sulawesi Selatan (PISP), menurut Zulkaenain juga berfungsi sebagai pusat data kelautan yang bisa diakses oleh masyarakat luas. "Intinya kita mengembangkan data tantang sumber daya laut untuk memudahkan masyarakat mengembagkan hasil laut yang telah diperolehnya," ujar Zulkarnain.
Dalam pameran kelautan tersebut, Sulawesi Selatan juga menampilkan berbagai cara pengembangan mata pencaharian alternatif seperti cara penggemukan kepiting bakau, bagaimana mengelola keramba apung yang baik dan bisa menghasilkan hasil yang maksimal dan memberikan penyuluhan kepada masyarakat bagaimana mengelola hasil panen dengan baik dan benar. (bernadette lilia nova)

Senin, 18 Agustus 2008

Senja Di Pantai Lasiana


Menyajikan pesona semburat matahari kemerahan di ufuk Barat, membuat Pantai Lasiana menjadi pantai paling favorit di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).


Setelah seharian mengelilingi Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan matahari yang mulai tergelincir ke ufuk Barat, duduk dan menikmati keindahan pantai dan laut senja hari dengan semburat warna merah menjadi salah satu alternatif terbaik yang juga banyak dipilih oleh turis lokal ketika datang dan berkunjung ke daerah berpenduduk empat juta jiwa lebih ini.

Pantai favorit di Kupang itu bernama Pantai Lasiana, yang berjarak lebih kurang 11 kilometer dari arah Timur Kota Kupang. Untuk sampai di lokasi, jalanan yang dilalui akan sedikit berliku, namun keadaan itu akan segera terlupakan, ketika dari kejauhan birunya air laut yang membentang dan sesekali terlihat dari jalan raya, membuat semua rasa lelah hilang.

Semakin mendekati pantai, pengunjung akan melewati puluhan pohon lontar yang tengah berbuah. Masyarakat Kupang seperti juga masyarakat Pulau Rote sangat menghormati keberadaan pohon ini, dan pohon itu dianggap sebagai pohon kehidupan, karena dari daun, batang hingga akarnya bisa digunakan untuk membantu kehidupan masyarakat, itulah yang membuat pohon ini sangat dihormati.


Mendekati pantai, debur ombak akan terdengar, ombak itu pulalah yang membuat Pantai Lasiana mengalami abrasi. Jika dulu di awal tahun 1980-an Pantai Lasiana banyak dikunjungi turis asing dari Jerman, Australia, Inggris, dan Amerika Serikat. Sekarang, Pantai Lasiana hanya dikunjungi oleh turis lokal dan sesekali saja terlihat turis asing terlihat duduk menikmati senja di Lasiana. Itu semua karena pantai yang semakin sempit dan pasir yang semakin hilang tergerus arus.

Walaupun mengalami abrasi, namun Pantai Lasiana tetap hadir dengan pemandangan yang memikat, apalagi jika memandang jauh ke batas ufuk. Pantai dengan pasir putih tersebut menyuguhkan pemandangan yang benar-benar menakjubkan. Matahari berwarna kemerahan yang perlahan turun dan tenggelam di batas ufuk, tetap mampu memikat banyak orang untuk mampir dan menikmati keindahan itu. “Dulu Pantai Lasiana jauh lebih cantik dari pada sekarang. Walaupun demikian, yang membuat Lasiana unggul adalah mataharinya yang benar-benar hadir setiap senja di pantai ini,” kata salah satu warga sekitar pantai Frans Tano.

Selain menyaksikan matahari tenggelam dengan semua kemegahannya, Pantai Lasiana juga menyimpan pesona tersendiri. Permukaan pasirnya yang datar dengan kemiringan hanya sekitar 5 -10 persen, sangat cocok untuk bermain sepakbola pantai. Pasirnya putih bersih dan bercahaya ketika tertimpa cahaya matahari yang kemerahan.


Keunikan lainnya dari Pantai Lasiana adalah dasar lautnya yang berpasir, bukan lumpur, sebagaimana kebanyakan pantai di Pulau Timor. Sehingga airnya selalu jernih. Inilah yang membuat wisatawan paling suka mandi dan berenang di pantai ini.

Sebenarnya, jika pemerintah daerah cukup serius ingin kembali menjadikan Pantai Lasiana sebagai kawasan wisata yang sanggup mendatangkan devisa, aktivitas iris tuak oleh warga suku Rote dengan pohon lontar bisa dicontoh dan coba dikembangkan di Lasiana. Jadi selain keindahan matahari tenggelam, aktivitas di objek wisata juga menjadi daya tarik bagi turis agar datang. (bernadette lilia nova)
foto : bernadette lilia nova

Kidung Cinta Perajin Sasandu

Anak Timur bermain sasandu dan menari olelebo rasa girang, oo.. Lobamora tanah airku tercinta. Kidung yang bercerita tentang kegembiraan anak-anak Timur dan kecintaan pada tanah kelahiran mereka, itulah yang menyambut kedatangan kami ketika mengunjungi perajin alat musik tradisional di Desa Oebelo, Pluti, Kupang Tengah. Iringan kidung dan denting senar alat musik sasandu yang telah dibuat sejak abad ke 17 tersebut membuat suasana terasa semakin menyenangkan.
Sang perajin sasandu, Yermias A Pah (83), menyambut dengan senyum ramah dan mengajak menyaksikan proses pembuatan sasandu di samping art shop miliknya. Dibutuhkan daun lontar, bambu dan senar untuk bisa membuat sasandu hingga menjadi alat musik yang unik," kata Yermias sambil mempraktekkan proses pembuatan alat musik tersebut.

Proses awal menurut Yermias, daun lontar dijemur selama tiga jam, setelah itu baru dirangkai melengkung. Setelah lengkunngan lontar rampung, tabung bambu yang telah dilengkapi dengan 11 senar dipasangkan. "Senar pada sasandu ditemukan oleh Lungilain dan Baloamin dari Pulau Rote abad 17. Sejak itulah sasandu dimainkan," kata Yermias.

Seiring dengan perkembangannya, sasandu menurut perajin sekaligus seniman sasandu yang pernah diundang ke istana negara oleh Presiden SBY, mengatakan bahwa sasandu, memiliki kidung tersendiri yaitu kidung cinta dan kidung kematian Kidung cinta yang biasa dilantunkan berjudul Batu Matia. "Batu Matia memiliki makna cinta yang sekokoh batu karang, sehingga tidak mudah terpisahkan," katanya.

Kidung Cinta Batu Matia juga dijadikan sebagai pengiring ketika sepasang kekasih tengah duduk dipelaminan dan selalu diiringi dengan petikan-petikan merdu sasandu kebanggaan NTT yang juga kebanggaan Indonesia, karena itu, mengunjungi Kupang belum lengkap rasanya jika belum menikmati petikan sasandu yang mendendangkan kidung cinta langsung dari vokal senimannya.

Selain memanjakan pengunjung yang ingin menyaksikan langsung proses pembuatan sasandu, Yermias juga membuat aneka kerajinan tangan lainnya bersama tiga karyawannya. Bahkan sasandu yang biasanya sulit dibawa karena ukurannya yang besar, di tangan Yermias bisa menjadi mudah. Jika sasandu ingin dibawa keluar pulau atau luar negeri, Yermias membuat sasandu yang daun lontarnya bisa dilipat. Sehingga tidak rusak ketika sampai di lokasi.

“Kita juga membuat sasandu ukuran kecil untuk gantungan kunci. Sansandu ukuran ini telah dipesan ribuan mulai dari souvenir perkawinan hingga buah tangan biasa,” katanya. Jadi mengunjungi Kupang, menikmati kidung cinta sasandu akan membuat banyak orang tidak bisa lupa daerah ini. (bernadette lilia nova)

Pesona Air Terjun Oenesu

Bagi masyarakat kota yang selalu tenggelam dalam suasana kerja dan semakin jenuh dengan lalu lintas yang serba sibuk, bisa menikmati keindahan alam dan sesekali menyendiri dikeheningan alam. Salah satu objek wisata yang bisa dijadikan rujukan untuk menikmati suara alam jika berkunjung ke Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah Air Terjun Oenesu yang terletak di Desa Oenesu, Kecamatan Kupang Barat.

Air terjun ini merupakan salah satu tujuan wisata utama yang selalu ramai dikunjungi, baik wisatawan lokal maupun mancanegara dihari-hari libur nasional. Bahkan pada hari Minggu, air terjun bertingkat empat ini bisa dikunjungi lebih dari seribu pengunjung.

Memiliki lokasi seluas 0,7 hektar, dan berjarak lebih kurang 17 kilometer dari pusat kota Kupang, Air Terjun Oenesu memiliki pesona yang tidak akan terlupakan. Bagaimana tidak, untuk bisa tepat berada di bawah air terjun bertingkat empat tersebut, pengunjung akan melewati sebuah jembatan kayu yang membentang melintasi sungai tempat Air Terjun Bermula.

Agak menakutkan memang ketika melintasi jembatan ini, karena dibuat dari dua batang pohon lontar melintang. Diatasnya dipakukan lembaran-lembaran kayu yang sama sebagai pijakan. Kondisinya yang sedikit miring membuat banyak pengunjung lebih memilih untuk melewati jalan setapak dengan tangga permanent dari semen yang telah di bangun di samping air terjun, walaupun perjalanan menjadi lebih jauh.

Gemuruh suara air dari ketinggian, semakin terdengar jelas diantara kesunyian suasana lokasi air terjun. Bagi mereka yang khusus datang untuk menikmati suara air dan sesekali terdengar suara burung berkicau, objek wisata ini lebih baik dikunjungi pada hari-hari biasa, karena lebih sepi dan tentu saja bisa berlama-lama di tempat ini.


Selain bertingkat empat, Air Terjun Oenesu yang airnya bermuara hingga ke laut di daerah Batu Lesa ini, memiliki keunikan lainnya. Air terjun ini memiliki dinding karang yang berlubang seperti gua. Kondisi dinding air terjun yang berlubang banyak digunakan oleh wisatawan untuk berfoto sambil menikmati kesegaran air.
Untuk mendekati air terjun, pengunjung sebaiknya menggunakan alas kaki, karena keunikan lain dari Oenesu adalah air terjun ini memiliki karang seperti karang laut yang tajam. “Banyak legenda yang beredar di masyarakat kalau Air Terjun Oenesu berawal dari kisah seorang nenek dengan cucu. Mereka memiliki lesung, dan lesung itulah yang berubah menjadi air terjun,” kata salah satu Petugas di Air Terjun Oenesu Apeles Bangkoles.

Jika datang ke lokasi air terjun pagi hari, air yang mengalir di dinding air terjun tidak sebanyak ketika datang di soren hari. Pada sore hari, seluruh dinding air terjun akan tertutupi oleh air. “Entah apa penyebabnya, namun air terjun ini selalu memiliki air yang lebih banyak di sore hari dibandingkan pagi hari,” tambah Apelles.

Pada musim hujan sekalipun obyek ini masih tetap dapat dijangkau dengan mudah, karena jalannya tidak berlumpur atau becek. Semua kendaraan dapat langsung berhenti persis di samping lokasi air terjun. Bahkan untuk menjaring lebih banyak pengunjung objek wisata ini telah dibenahi dengan sarana seperti, rumah makan, MCK, jalan setapak dan tempat parkir. (bernadette lilia nova)