Sabtu, 17 November 2018

Tanpa Mu

Senja tanpa-mu kawan..
Seperti sunyinya pantai ditinggal ombak..
Seperti buku tanpa kata tanpa kalimat..
Dan seperti waktu yang kehilangan detak...

#daricatatandibalikJakarta
#291018

Masih Buat Kawan

Dan... Kawan...
Lama tak melihatmu bukan berarti aku melupakan namamu.
Tidak kawan.. Tidak....
Persahabatan itu seperti penyakit kronis yang melekat hingga akhir....

Kamis, 06 September 2018

stttttttt... Dia Datang Lagi



Ssssttttttt.... Dia Datang Lagi

Lima hari setelah kunjungan terakhirnya, dia datang lagi. 
Kali ini bahkan tanpa malu-malu dia mengetuk hatiku dengan sangat lembut.
"Aku datang... Aku datang sayang," kata hujan berbisik.

      Aku tatap mukanya dan berusaha menikmati eksotisnya. Tapi tak  aku temukan kesejukan seperti kedatangannya sebelumnya. "Ah... Ternyata matahari meningkahi percintaan kami."

Kamis 4/9-18

Peri Bertato Kawanku

Peri Bertato Kawanku

Bulan mengkerut baru muncul ketika dia datang. "Hai kawan.. Aku membaca catatanmu. Jadi aku datang," katanya riang.

     "Mana kopi-ku...?" Dia mencari-cari hingga tato setengah dewa dilehernya tersingkap. "Jangan cemaskan aku. Aku bukan perempuan biasa," ucapnya.

     Aku tertawa menatap optimismenya. Tak lama dia pamit, dan menyerahkan setumpuk buku. Dan tato baru di lengannya terlihat. 

Ah.... Peri bertato kawanku.. hatimu seindah lekuk tato dikulitmu.
...............






     

Selasa, 04 September 2018

Bunga Rumput

 Bunga Rumput

Matahari teramat terik. Panasnya membakar bumi. Enzi kecil datang kepadaku dengan keringat bercucuran di dahi. "Ini buat Mama," katanya dengan mata berbinar. 

     Di tangannya tergenggam setangkai bunga rumput.  Aku terpana tak bisa berkata apa-apa. 

"Terima kasih Nak," ujarku dekat ke hatinya.

     Kemudian dia berlalu meninggalkan aku yang masih terpana, tapi dengan setangkai bunga rumput yang mekar di hati dan jiwa.
#DariCatatanYangTerselip

..................


...................
Dia Cemburu

Rintik hujan yang datang ke jendela sepagi tadi, mebuat jiwa melayang.. "Ya... Saya mabuk kepayang." Sosoknya nan eksotis membuat saya tak bisa lupa.       "Hai kawan... Kau lupa padaku?" suara yang tak asing datang tiba-tiba. "Ah.. Matahari rupanya." Wajahnya memerah tanda marah. Saya peluk dia sepenuh cinta. "Seperti hujan, begitu pula cinta saya padamu," bisik saya meredakan amarahnya.
    Dia pergi, namun sekilas saya melihat senyumnya merekah tak kalah indah.


1/9-2018
................
Buat Kawan

Dan... Semburat merah saga hadir di cakrawala penanda senja akan tiba. Dan kau kawan, mengapa pintumu masih belum terbuka?
     Apakah merah saga senja tak lagi berarti bagimu? Ataukah senyum dari rumput-rumput tak lagi menggelitik hatimu?
     Kau boleh saja gundah kawan. Kau boleh bermuramdurja. Tapi datanglah padaku, kita hirup bersama nestapa itu, berteman secangkir kopi penutup hari.

                                Minggu 2/9-2018

#catatanbuatkawandansemburatmerahsagadicakrawala.

....................



Jumat, 25 Februari 2011

Kucing Dewan


Kucing Dewan


Malam datang mengiringi siklusnya dalam keteraturan yang selalu tepat. Dingin menusuk tulang, ditambah gerak angin yang gelisah. Hujan di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat-Republik Indonesia (DPR-RI), membuat orang-orang gelisah. Karena dingin atau karena rindu rumah yang hangat? Entahlah.

Saya duduk di depan pintu masuk yang tidak lagi bisa menutup dengan otomatis (pintu masuk samping, dekat Komisi XI). Mungkin kecapaian melayani ribuan orang yang hilir mudik setiap hari. Hingga akhirnya sang pintu memutuskan untuk rusak dan tidak bergerak.

Diantara lalu lalang orang-orang, payung yang terkembang, celana yang digulung dan rok-rok yang terangkat karena hujan, keluarga kucing juga ikut resah.

Bapak kucing, ibu kucing dan seekor anak kucing yang belum mengerti abu-abu gedung dimana dia tinggal, hanya bisa melengking memanggil si ibu, agar jangan pergi jauh-jauh.

Bapak kucing,

Warnanya hitam legam meninggalkan kesan angker. Namun tubuhnya teramat kurus dan belulangnya membayang dibalik kulitnya yang legam. Tidak layak sebenarnya dia menjadi bapak kucing di Gedung DPR (kita sebut saja begitu).

Ibu kucing,

sedikit lebih cantik. kolaborasi dua warna baik buruk, dia hitam putih. Menatapnya, hati menjadi miris, saking kurusnya, air susunya pun tidak sanggup menghidupi anaknya yang terus menjerit.

Ibu kucing hanya menatap tragis nasip anaknya yang takut-takut di balik pot bunga. Si ibu kucing terus berusaha menenangkan anaknya yang menjerit... Lapar.

Anak kucing,

Mengikuti jejak si ibu, warnanya juga mencerminkan kebaikan dan keburukan. Dia hitam putih. Matanya terlihat lebih besar dibalik wajahnya yang teramat tirus.

Saya hanya bisa berfikir... Ah kucing Dewan, nasibmu sama seperti jutaan masyarakat miskin yang hidupnya di ketok di gedung ini. Hampir satu jam saya menunggu hujan berhenti, setelah lebih manusiawi, saya berjalan menuju kantin Dewan. Tempat segala makanan bisa dinikmati.

Lagi-lagi kantin Dewan menampilkan wajah kontrasnya. Diantara ratusan jenis makanan, keluarga kucing tetap saja kurus. Dan saya, memaksakan diri untuk makan makanan yang teramat sangat pedas.

(catatan dari balik hujan di gedung dewan)

Jumat, 03 September 2010

Gerimis Dan Hujan

Gerimis Dan Hujan
Saya sebut saja mereka Gerimis dan Hujan, keduanya sama-sama menyegarkan dan mendamaikan. Mendinginkan panas atau melembabkan yang kering. Tanpa Gerimis, Hujan akan kalang kabut. Tanpa Hujan, Gerimis yang kehilangan.


Gerimis….

Kedatangannya selalu berupa sosok kecil yang lucu. Dia bisa datang kapan saja dengan
kaki-kakinya yang ramping dan panjang. Walau sedang terik sekalipun, dia bisa datang sesuai keinginannya tanpa pemberitahuan. Kehadirannya tidak selalu ditandai dengan petir, mendung yang menggulung atau angin kencang yang bertiup. Gerimis menciptakan romantisme Pun membuat pejalan kaki merasa melankolis ketika menyusuri setapak kota yang berkarat.

Pernah suatu senja, Gerimis datang pada saya dan bertanya, “Hendak kemana kita?”
Saya tersenyum dan menjawab, “Kita menunggu Hujan.”

Hujan….

Sosoknya teramat seksi dengan rambut terurai kecoklatan. Banyak orang memujanya, berharap kedatangannya. Jika Hujan datang dengan hati dipenuhi kehangatan, curahnya akan menyegarkan, menumbuhkan biji-bijian dan menghidupkan satwa yang berlari dipangkuan ibu bumi.
Jika hatinya dipenuhi kegalauan, jangan main-main dengan Hujan. Datangnya akan merobohkan dan menenggelamkan ibu bumi sekalipun. Hujan datang tanpa basa-basi.

Suatu senja yang berbeda, Hujan datang kepada saya dan bertanya, “Hendak kemana kita?”
Saya tersenyum dan menjawab, “Kita menunggu Gerimis.”
(Catatan dari dua kawan; dua karakter dan dua kebiasaan)