Sabtu, 09 Agustus 2008

Berlayar Di Negeri Pelaut III

Disambut Tarian Gadis Rote

Irama musik yang ceria, gemulai gadis-gadis berbusana tradisional dengan motif tenun yang cantik, menjadi pemandangan menarik yang tidak bisa dilewatkan oleh wisatawan mancanegara ataupun wisatawan lokal. Selain menari diiringi oleh irama musik, debur ombak yang mengempas pasir juga menambah meriah suasana.

Enam remaja yang menari di atas panggung, ternyata menarikan tarian selamat datang khusus untuk para tamu yang datang. Enam penari putri tersebut tergabung dalam Sanggar Tari Bolele Bo dari Namosae, Pulau Rote.

Tarian selamat datang yang mereka bawakan dengan gerak yang gemulai, ternyata dulunya ditarikan khusus untuk menyambut para prajurit yang pulang dari medan perang. Dengan tarian selamat datang yang juga berjudul Bolele Bo tersebut diharapkan para prajurit kembali merasa gembira karena telah pulang dengan selamat.

"Kita sering tampil diacara-acara penyambutan tamu kenegaraan, selain itu kita juga tampil di acara dengan banyak pengunjung seperti di festival," kata koreografer Tarian Selamat Datang Bolele Bo Novi Nubatonis.


Jika dulunya tarian selamat datang dilangsungkan untuk menyambut para prajurit yang pulang dari medan laga, sekarang seiring perkembangan zaman tarian perang bisa ditampilkan dalam berbagai kesempatan. Bahkan mengalami modifikasi yang disesuaikan dengan keadaan sekarang yang damai dan tanpa pertempuran.


Kecantikan gadis-gadis dari Pulau Rote yang terkenal dengan legenda nenek dan cucunya tersebut semakin memikat dengan asesoris tradisional yang mereka kenakan. Sebuah tiara kuning emas menjadi penghias kepala dan gelang-gelang tradisional menghasilkan suara gemerincing membuat tarian yang mereka bawakan semakin memikat.


Berbagai jenis tarian tradisional selalu menjadi tari penyambutan tamu oleh masyrakat Rote, diantaranya Tarian Kakamusu, Teorenda, Taebenu, Teotona, Lendondao dan Kebelai. “Kain tenun yang dikenakan dalam tarian selamat datang tradisional Rote melambangkan tingginya martabat dan harga diri masyarakat Rote,” kata Novi Nubatonis.


Hal tersebut memang beralasan, karena di Rote sendiri, kain tenun ikat memiliki ciri khas dan motif yang berbeda dibandingkan dengan kabupaten lainnya di Kupang. Kain tenun ikat ala Rote memiliki motif garis-garis lurus yang selalu diselingi oleh motif siku. Sedangkan warna dari tenun ikat Rote selalu mengombinasikan tiga warna utama, hitam, putih dan merah. “Dengan kain tradisional seperti itulah tamu kita sambut, maksudnya agar saling menghormati dan menghargai,” tambah Novi lagi. (bernadette lilia nova)

Selasa, 05 Agustus 2008

Lombokpun Punya Kuta

Selama ini orang mengenal Pantai Kuta ada di Bali. Padahal, Pantai Kuta di Lombok memiliki pasir putih yang berasal dari butiran karang tempat Nyale bersarang.

Menikmati pesona pantai dengan lautnya yang menghampar biru sejauh mata memandang, tentu saja menjadi impian setiap orang. Salah satu tempat yang menawarkan keindahan dan pesona alam yang memukau bisa ditemukan di Pantai Kuta, yang terletak di Desa Kuta, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Untuk mencapai Pantai Kuta Lombok, dari Senggigi memakan waktu sekitar 2,5 jam. Perjalanan yang cukup jauh akan terbayar ketika melihat keindahan alam yang masih asli. Memang tidak banyak wisatawan mancanegara ataupun wisatawan lokal datang ke tempat ini.
Selain memanjakan pengunjung dengan beningnya air, pantai ini memiliki bukit-bukit yang menjadikannya semakin menarik. Selain itu pantai datar ini, memiliki pasir yang unik. Pasir di pantai ini berbentuk butiran-butiran seperti merica, sehingga nyaman diinjak dan dianggap baik untuk membantu sirkulasi darah, apalagi jika diinjak dengan kaki telanjang.

Keindahan Pantai Kuta Lombok dengan pasir putihnya yang seperti butiran merica, ternyata memiliki sejarah dan ceritanya sendiri. Pantai yang belum banyak dikunjungi turis jika dibandingkan dengan Pantai Kuta di Bali ini adalah salah satu pantai yang menjadi pusat berkumpulnya Nyale atau cacing laut sekali setahun dan dirayakan dengan Festival Bau Nyale atau mencari Nyale.

Nyale-nyale yang berjumlah milyaran tersebut, membangun sarang di karang-karang berwarna putih dan tidak terlalu keras. Untuk membangun sarang, nyale-nyale melubangi karang. Hasil galian karang menjadi butiran-butiran pasir yang dihanyutkan ombak dan gelombang ke pinggir pantai. Peristiwa yang berlangsung sejak ribuan tahun lalu itu terjadi terus menerus, sehingga tumpukan butiran pasir menjadi pasir yang hanya bisa ditemukan di Pantai Kuta Lombok. “Yang membuat Pantai Kuta Lombok unik dan menarik adalah karena pasirnya yang seperti merica. Selain itu pantai ini juga masih sangat asri,” kata Kadin Disbudpar Propinsi NTB GP Supartha.

Selain unik dengan pasir di pantainya, pantai ini juga terhubung dengan kisah putri kerajaan yang bernama Putri Mandalika. Karena bingung memilih calon suami, akhirnya sang putri menenggelamkan diri ke laut. Sebelum menenggelamkan diri Putri Mandalika berjanji akan kembali satu kali dalam satu tahun dalam wujud yang lain. Dan kenangan akan Putri Mandalika dirayakan dengan Festival Bau Nyale. “Jika dikelola dengan baik, Pantai Kuta Lombok bisa menjadi pantai yang sangat terkenal, dan kita akan mewujudkan itu,” kata GP Supartha.

Berjalan-jalan di Pantai Kuta Lombok, semakin menarik, karena jika pengunjung ingin menyentuh air laut atau berjalan kaki di dalam air, pantai ini cukup dangkal untuk dilalui bahkan hingga agak ke tengah, kedalaman air hanya sebetis saja. Walaupun tidak seramai Pantai Kuta di Bali, namun pedagang cendera mata dan aneka souvenir di pantai ini bisa ditemukan dengan mudah. Karena rata-rata yang berjualan souvenir adalah anak-anak dan terkadang sedikit memaksa agar kita membeli dagangan mereka. (bernadette lilia nova)

Filosofi Guci Maling

Tentu saja belum lengkap rasanya, jika mengunjungi Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), jika belum datang dan menyaksikan langsung proses pembuatan gerabah di Desa Banyumulek di Lombok Barat. Untuk mencapai desa yang dihuni lebih kurang 500 kepala keluarga ini bisa menggunakan angkutan darat lebih kurang 20 hingga 30 menit dari Mataram.

Memasuki desa Banyumulek, kesibukan warga membuat gerabah terlihat dihampir semua rumah. Demikian pula dengan jalan-jalan di sepanjang desa, dipenuhi oleh tumpukan tanah liat yang dijemur. Agar tanah liat lebih cepat kering dan tidak membutuhkan tenaga yang besar untuk menghancurkannya, tanah liat dijemur di tengah jalan. Semakin banyak kendaraan, semakin banyak digilas mobil atau motor, semakin mudah pengrajin menghaluskan tanah liat yang kering.

Untuk mendapatkan sebuah guci atau gerabah yang cantik, dibutuhkan proses yang panjang. Setelah dijemur, tanah liat dihaluskan. Setelah halus, dicampur dengan pasir sungai agar gerabah yang dihasilkan lebih kuat dan tahan lama. "Untuk mendapatkan keramik dari awal proses hingga siap dipasarkan dibutuhkan 20 hari," kata pemandu kami Hari.
Setelah semua bahan tersedia, barulah para wanita yang kebanyakan ibu rumah tangga membuat berbagai jenis kerajinan tembikar. Uniknya di desa ini pekerjaan laki-laki dan perempuan berbeda. Para wanita khusus membuat keramik menjadi guci ataupun kendi atau berbagai model lainnya sesuai pesanan. Sedangkan kaum pria mengukir, menghaluskan dan memasarkan.

"Mungkin karena wanita lebih telaten, makanya pekerjaannya adalah mengolah tanah liat menjadi gerabah yang cantik. Proses pembakaran, sekarang dilakukan bersama," tambah Hari lagi.

Dari ratusan model dan bentuk gerabah yang dihasilkan di Banyumulek, sebuah kendi bernama Kendi Maling menjadi favorit warga dan wisatawan. Kendi Maling ini cukup unik karena untuk memasukkan air ke dalam kendi haruslah dari bagian belakang. Proses terciptanya kendi tersebut karena merujuk pada filosofi maling yang masuk ke rumah lewat pintu belakang. "Setelah air dimasukkan, guci dimiringkan perlahan. Itu juga filosofi maling yang masuk diam-diam. Setelah guci berdiri, air di dalamnya sudah bisa diminum," katanya.


Selain guci maling, menyaksikan proses pembakaran tembikar juga sangat menarik. Untuk satu kali pembakara dibutuhkan waktu dua jam agar hasilnya benar-benar sempurna. Proses pembakaran di desa ini juga masih menggunakan cara tradisional, yaitu dengan menggunakan kayu bakar dan timbunan jerami. "Satu tempat pembakaran dikelola oleh sepuluh kelompok. Proses pembakarannya dilakukan bergotong royong," tutur Hari.
Tercatat dari Desa Banyumulek kemudian kerajinan gerabah yang dihasilkan dipasarkan ke Bali. Selain Bali, hasil kerajinan tangan turun temurun tersebut juga di ekspor keberbagai negara. Diantaranya, Australia, Jepang dan German. "Masyarakat Banyu Mulek sudah memiliki koperasi yang menampung hasil kerja mereka bila tidak ada order. Namun yang bisa masuk koperasi adalah gerabah yang bermutu," terang Hari. (bernadette lilia nova)
foto-foto by bernadette lilia nova

Kerukunan Beragama Pura Lingsar

Di Jakarta simbol kerukunan beragama bisa ditemukan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Kerukunan beragama juga bisa dilihat diantara Istiqlal dengan Katedral Jakarta yang terletak berhadap-hadapan. Kerukunan beragama ternyata sudah dilakukan masyarakat Indonesia sejak ratusan tahun lalu. Buktinya bisa dilihat di Pura Lingsar yang terletak di Desa Lingsar, Lombok Barat.

Pura Lingsar adalah pura tertua di Lombok, yang dibangun 1759 lalu oleh Raja Kerajaan Karangasem, Anak Agung Ngurah. Untuk memasuki pura yang menjadi simbul kerukunan dua agama, Islam Sasak dan Hindu Bali ini, pengunjung harus melewati dua gerbang utama. Gerbang berukir dengan patung barong yang menjadi pengawal, memiliki anak tangga yang unik. Jika hendak masuk, anak tangga di gerbang puri berjumlah tiga. Sedangkan anak tangga dibagian dalam berjumlah lima.

Jumlah anak tangga tersebut ternyata memiliki cerita tersendiri, dulunya masyarakat Islam Sasak mayoritas meyakini Islam waktu telu (shalat hanya tiga kali sehari), namun seiring banyaknya ulama yang masuk ke Lombok, Islam waktu telu mulai bergeser menjadi menjalankan shalat lima kali sehari. Itu dilambangkan dengan tangga dibagian dalam gerbang menuju pura utama.

Di dalam pura ini terdapat dua bangunan utama, dibagian tanah yang paling tinggi, dibangunlah puri untuk Hindu sedangkan disampingnya berdiri pula bangunan untuk Islam. Sedangkan di taman bagian bawah pada waktu purnama para peziarah melakukan pesta perang-perangan saling melempar ketupat antara Hindu dan Islam, atau terkenal dengan perang kupat.

“Pura hanya ada di Lombok Barat, itu karena Lombok pernah kalah perang dengan Bali. Daerah pertama yang takluk itu adalah Lombok Barat, akhirnya dibagian baratlah pura bisa ditemukan,” kata penduduk setempat yang juga merangkap sebagai pemandu Sahyan.

Jika para pengunjung beruntung, mereka bisa melihat langsung penganut Islam berdoa atau mengadakan upacara syukuran. Sedangkan bagi mereka yang menyukai memancing, pura ini juga menyediakan sebuah kolam yang merupakan miniatur danau di Gunung Rinjani dengan sembilan pancuran disampingnya. “Ada pula kolam kemali atau kolam keramat yang berisi sejenis moa atau belut berkuping dengan panjang 1,5 meter. Jika melihat ikan tersebut, semua permintaan akan terkabul,” terang Sahyan lagi.

Ditambahkan Sahyan, tidak semua orang beruntung bisa melihat ikan yang ada di dalam kolam. Bahkan di lokasi yang sama disediakan pula telur rebus untuk dimasukkan ke dalam kolam untuk memancing agar ikan tersebut keluar dan menampakkan wujudnya. “Pernah ada yang melihat ikan tersebut, beberapa minggu kemudian langsung mendapatkan istri,” kata dia.

Bagi pengunjung yang tidak ingin membeli telur rebus, bisa pula melemparkan koin dan memohon apapun di depan kolam. “Jika koin tersebut masuk ke dalam kolam berarti permintaannya akan terkabul,” ungkapnya. (bernadette lilia nova)

Jumat, 01 Agustus 2008

Semarak Festival Senggigi 2008 I

Selain menyajikan atraksi budaya yang memikat, Festival Senggigi 2008 menjadi salah satu pemikat turis untuk datang ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Jarum jam tepat menunjukkan angka 09.00 di Lombok, ketika rombongan dari Departemen Pariwisata dan Kebudayaan Direktorat Promosi Dalam Negeri (Debudpar), menginjakkan kaki di Bandar Udara Selaparang. Nuansa budaya terasa kental, apalagi ketika berada di jalan-jalan dalam kota, suasana tradisi dari rumah tradisional dengan atap melengkung menjadi penghias utama sepanjang jalan yang dilalui.


Suasana semarak semakin terasa, apalagi ketika ratusan masyarakat propinsi yang dikenal dengan kota seribu masjid tersebut menghadiri Festival Senggigi 2008 yang dilangsungkan disepanjang Jalan Raya Senggingi. Dalam rangka menyemarakkan program Visit Indonesia 2008, dimana Pulau Lombok terpilih menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia.

Angin laut yang bertiup semilir, deru ombak dan matahari yang bersahabat, mengiringi dibukanya Festival Senggigi 2008 dengan tema Lombok The Island of a Culture oleh Dirjen Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, Dr Sapta Nirwandar yang ditandai dengan pemukulan kentongan.

Antusiasme masyarakat Lombok dan kecintaan terhadap tradisi, ditunjukkan dengan memadati trotoar-trotoar jalan di sepanjang Pantai Senggigi yang semakin memesona dengan birunya laut yang menghampar sejauh mata memandang.


Festival yang diikuti oleh 15 kecamatan di Lombok ini, juga mendapat antusias dari ratusan wisatawan mancanegara yang bergabung bersama masyarakat Lombok untuk memeriahkan perhelatan tahunan tersebut.

Antusiasme wisatawan mancanegara juga ditandai dengan semangat mereka untuk berdiri dibarisan paling depan, bahkan ikut berdesakan dengan masyarakat lokal dan jurnalis untuk mengabadikan festival yang telah dilakukan sejak delapan tahun lalu. Festival Senggigi 2008 semakin meriah dengan berbagai atraksi budaya yang dibawakan oleh masing-masing kecamatan dan melibatkan lebih kurang 300 seniman di Lombok dan juga seniman peserta dari Banyuwangi, Aceh dan Bali.

Dari serangkaian acara, puncak kemeriahan festival ditandai dengan acara Njenengan. Njenengan adalah upacara pengukuhan jabatan seorang pejabat baru dengan sistem adat, setelah dilantik secara resmi oleh pemerintah. Prosesi Njenengan sudah tidak pernah dilakukan lagi sejak tahun 60-an dan termasuk salah satu tradisi yang mulai dilupakan dan luntur dari ingatan masyarakat Lombok.

"Festival kali ini memang sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini kita mencoba membangkitkan kembali tradisi yang sudah mulai dilupakan masyarakat, yaitu Njenengan," kata Wakil Ketua Panitia Festival Senggigi 2008 Lalu Suhaemie.

Acara Njenengan menurut pelaku budaya di Lombok ini, dulunya selalu dilakukan setiap ada pejabat baru yang dilantik. Namun sayangnya kearifan lokal tersebut tergeser oleh perubahan zaman. Acara Njenengan diawali dengan prosesi mengantarkan pejabat yang baru dilantik kepada tetua adat untuk di sahkan jabatannya dengan upacara adat dan disaksikan oleh seluruh masyarakat desa.


Njenengan diawali dengan perarakan pejabat bersama anggota keluarganya. Setelah itu diberikan kepada dewan adat untuk dinobatkan. Dewan adat akan mengesahkan penobatan itu dengan memberikan umbak atau gendongan kain dengan 225 keping uang logam. "225 jika dijumlahkan menjadi sembilan, itulah jumlah anggota tubuh manusia yang harus dipertanggungjawabkan. Itu juga melambangkan keberanian mengangkat beban dan mempertanggung jawabkannya," terang Lalu.

Banyak nilai filosofis bisa dimbil dari acara Njenengan yang dilangsungkan, dari asesoris yang dikenakan, semua memiliki makna dan artinya masing-masing. Seperti keris yang dinamakan genggaman, menjadi isyarat bahwa memimpin rakyat tidak selalu dengan kekerasan. "Keris diibaratkan sebagai pedoman untuk menjaga kepribadian," ujur Lulu.

Ditambahkan Lalu, upacara Njenengan dilakukan dengan perayaan yang rumit. Misalnya dengan mendudukkan pejabat yang baru di atas beruga. Beruga adalah tempat duduk bertiang empat terbuat dari Pohon Turi dan dikelilingkan sebanyak tujuh kali. Semakin tinggi jabatan yang diupacarakan, semakin mewah beruga tempat duduknya. "Karena kita hanya ingin menyegarkan ingatan masyarakat terlebih dahulu, jadi upacara kita buat seperti pawai tanpa beruga," ujarnya.

Selain Njenengan iring-iringan tradisi dari 15 kecamatan di Lombok juga semakin meriah dengan tampilnya tari Mojong yang terkenal karena sudah sangat tua dan telah ditarikan sejak Belanda masih bercokol di Indonesia. Ada juga Periseian yang merupakan latihan perang antara dua prejurit dengan menggunakan tameng dan rotan untuk memukul lawan. "Sejauh ini Festival Senggigi selalu mengalami peningkatan. Namun yang sedikit disayangkan kurang teraturnya acara," kata Sapta Nirwandar.

Festival Senggigi 2008 ternyata bukan hanya menampilkan acara-acara kesenian tradisional semata. Namun juga menjadikan peluang bisnis yang bagus bagi pebisnis handicraft. Pameran karya unggulan tersebut dilangsungkan di Senggigi Square yang masih berada di Jalan Senggigi.

Berbagai karya hasil kreatifitas masyarakat, mulai dari ukiran, tenun hingga bagaimana menganyam rotan menjadi sebuah tas bisa ditemukan dalam pameran ini. Namun untuk harga yang ditawarkan tentu adalah harga pameran yang lebih mahal, dibandingkan dengan pasar-pasar seni yang banyak berada di pinggir-pinggir pantai. (bernadette lilia nova)

Minggu, 27 Juli 2008

Festival Senggigi 2008 2

Serdadu Dalam Tarian Kuno

Jangan salah sangka dulu, ketika melihat belasan serdadu bersenjata lengkap memanggul senjata dengan sangkur terhunus. Para serdadu berseragam khas Belanda tersebut ternyata bukan serdadu sebenarnya. Mereka adalah salah satu peserta dalam Festifal Seggigi 2008, yang ikut memeriahkan even tahunan tersebut.

Identik dengan warna-warna cerah, para serdadu mulai menarikan tarian perang yang dikenal masyarakat Lombok dengan nama Tarian Panji Lingsar. Tarian yang harus dibawakan dengan jumlah ganjil tersebut ternyata menceritakan kisah seorang putri kerajaan bernama Panji Lingsar yang berhasil menjadikan serdadu Belanda sebagai bawahan dan mengikuti semua perintah dan larangannya. "Tari Panji Lingsar adalah tarian yang diadopsi dari Tari Batek Baris. Karena tarian aslinya tidak boleh dipentaskan sembarangan," kata koreografer Tari Panji Lingsar Didik Iskandar Syah.

Tarian Batek Baris menurut Didik, adalah tarian yang khusus dibawakan ketika mengantar raja untuk menghadiri Perang Kupat (perang ketupat) yang dilakukan masyarakat. Yang unik lagi dari tarian Panji Lingsar adalah, jumlah penari yang harus selalu ganjil dan ketika tampil dalam Festival Senggigi 2008, Sanggar Tari Rinjani tampil dengan 13 penari, tujuh penari laki-laki dan enam penari perempuan. "Ganjil adalah jumlah yang disakralkan, makanya tarian ini tidak boleh dibawakan dengan jumlah genap," terang Didik.

Asesoris yang dikenakan oleh penari perempuanpun tidak kalah menarik jika dibandingkan dengan para serdadu penari laki-laki. Sebuah tiara atau masyarakat Lombok menamakannya dengan belengker berwarna keemasan menjadi lambang kedudukan di istana, terpasang di kepala setiap kepala penari. Ada pula selendang songket khas Lombok yang diikatkan di pinggang dan asesoris lainnya seperti gelang dan anting yang semuanya memiliki nilai filosofinya masing-masing. "Tarian ini bisa dikatakan sebagai tarian bersejarah karena semua cerita tentang Panji Lingsar benar-benar terjadi," ungkapnya.

Tarian Panji Lingsar juga libawakan untuk menghormati jasa-jasa Panji Lingsar dan kebaikan sang putri hingga bisa menaklukkan penjajah Belanda tanpa pertumpahan darah. "Peristiwa itu terjadi ketika Lombok pertama kali dimasuki oleh Belanda juga kediaman Panji Lingsar di Puri Lingsar," kata pria tambun tersebut.

Gerak dan irama yang mengiringi Tarian Panji Lingsar, juga melambangkan keberanian sang putri dalam menghadapi kaum penjajah. Tergambar dalam tarian tersebut bagaimana dengan kebaikan den kepala dingin sang putri bisa menundukkan pasukan Belanda yang hendak menyerbu ke dalam Puri yang dianggap suci oleh masyarakat Hindu. (bernadette lilia nova)

Festival Senggigi 2008 3


Periseian Simbol Keperkasaan

Kesenian bercitarasa bela diri hampir seluruh Indonesia memilikinya, seperti di Minang Kabau yang terkenal dengan Silat Minangnya, Betawi dengan jurus-jurus Silat Cimandenya atau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan Periseian. Dulunya, kesenian tradisional bernuansa beladiri ini dilakukan untuk melindungi kampung atau diri sendiri dari serangan musuh.

Itu pula yang terjadi di Lombok, Kesenian bela diri seperti periseian sudah ada sejak zaman kerajaan-kerajaan di Lombok. Awalnya periseian adalah semacam latihan pedang dan perisai sebelum berangkat ke medan pertempuran. Pada perkembangannya hingga kini senjata yang dipakai berupa sebilah rotan dengan lapisan aspal dan pecahan kaca yang dihaluskan, sedangkan perisai (ende) terbuat dari kulit lembu atau kerbau. Setiap pemain atau yang dikenal dengan nama pepadu dilengkapi dengan ikat kepala dan kain panjang.

Periseian memiliki fungsi khusus bagi masyarakat Lombok, karena tidak bisa lepas dari upacara ritual dan musik yang membangkitkan semangat untuk berperang. Pertandingan akan dihentikan jika salah satu pepadu mengeluarkan darah atau dihentikan oleh juri. Walaupun perkelahian cukup seru bahkan tak jarang terjadi cidera hingga mengucurkan darah di dalam arena, tetapi diluar arena sebagai pepadu yang menjunjung tinggi sportifitas tidak akan dendam kepada lawan walaupun mengalami kekalahan.

“Perisaian biasanya dilakukan di daerah Lombok Timur untuk memperingati acara Ngaluaik. Ngaluaik adalah upacara tanda syukur terhadap anugrah yang diperoleh dari air,” kata Pemangku Adat dari Lombok Timur Raden Sawinggih.

Selain untuk mengucapkan syukur masyarakat terhadap air, perisaian juga dilakukan untuk meminta hujan. Namun seiring perkembangan zaman, periseian tidak saja dihelat untuk meminta hujan ataupun ungkapan syukur atas manfaat air, namun juga dilangsungkan untuk memperingati HUT kemerdekaan RI, pesta-pesta adat ataupun festival-festival, seperti pada Festivas Senggigi 2008 beberapa waktu lalu. Kehadiran periseian menjadi tontonan menarik bagi masyarakat. “Periseian adalah keterampilan yang harus dimiliki oleh pemuda di desa Bayan, latihan ini bukan main-main, periseian melambangkan keperkasaan,” tambah Raden Sawinggih. (bernadette lilia nova)