Rabu, 06 Februari 2008

Mutiara Dari Timur I


Eksotisme Mutiara Dari Timur

Selain terkenal dengan keelokan alamnya, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), terkenal pula sebagai penghasil mutiara terbesar di Indonesia.

Keindahan alam mulai dari pantai dan laut yang membiru sejauh mata memandang, kehijauan pulau-pulau kecil yang terlihat menghampar sebagai pembatas ufuk, menjadi pemandangan menarik, ketika menginjakkan kaki di bumi Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Apalagi ketika perjalanan dimulai dengan menggunakan mobil menuju Teluk Kodek, yang terletak di Lombok Barat Bagian Utara. Dibutuhkan waktu dua jam lebih, dari pusat kota Lombok, untuk menjangkau teluk berair bening ini.


Sepanjang perjalanan dari Ampenan, tidak henti-hentinya rombongan disuguhi oleh panorama yang menarik, mulai dari keindahan lekuk Gunung Rinjani, yang merupakan gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia dengan ketinggian 3.726 meter dari permukaan laut, serta terletak pada lintang 8º25' LS dan 116º28' BT ini, merupakan gunung favorit bagi pendaki karena keindahan pemandangannya.


Menikmati kehijauan lembah dan gunung, membuat perjalanan menuju Teluk Kodek, terasa lebih cepat, walaupun harus melewati jalan beraspal yang berliku.Teluk Kodek menjadi salah satu tujuan perjalanan kali ini oleh rombongan yang terdiri dari Direktorat Perikanan Kelautan (DKP) dan Direktorat Jenderal Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) dengan program, Pemberdayaan Pulau-Pulau Kecil di Indonesia, karena Teluk Kodek, menjadi salah satu tempat pemberdayaan kerang mutiara, sekaligus menjadi salah satu tempat wisata bahari paling digemari oleh wisatawan mancanegara ataupun wisata lokal.


Berbeda dengan aktifitas penduduk di pinggir pantai umumnya, yang sibuk dengan jaring dan perahu-perahu nelayan, di Teluk Kodek, aktifitas itu sama sekali berbeda. Memasuki teluk ini, rombongan disambut oleh aktifitas masyarakat yang tengah sibuk membuat peralatan untuk tempat kerang-kerang mutiara bersarang. Peralatan yang terbuat dari tali plastik, kawat dan tali-tali pengikat, berbentuk segiempat tersebut dinamakan kolektor.


Membudidayakan kerang mutiara, memang tidak mudah, selain kualitas kerang harus terjamin, peralatan yang dinamakan kolektor tersebut, juga menjadi salah satu sarana paling penting, untuk mendapatkan kerang-kerang mutiara yang bermutu. Alsannya adalah samakin cocok kolektor yang dibuat untuk tempat kerang bersarang, maka larva-larva kerang mutiara akan mudah menempel, bersarang dan hidup pada alat tersebut.


Untuk mendapatkan kolektor yang digemari oleh kerang, berbagai prosespun dilakukan, mulai dari memintal tali plastik, hingga memasukkannya dalam laboratorium pembibitan, menjadi sebuah rutinitas yang harus dilalui. Walaupun tenggelam dengan rutinitas sehari-hari untuk pembuatan kolektor, namun suasana di Teluk Kodek sama sekali tidak menunjukkan kesibukan rutinitas pekerjaan yang monoton, karena sambil bekerja, 20-an laki-laki dan wanita, bekerja sambil bercanda, seakan menikmati hembusan angin yang bertiup dari laut menuju sebuah pondok kecil tanpa dinding tempat mereka bekerja. “Penduduk yang bekerja membuat kolektor dibagi menurut tahap masing-masing, misalnya ada yang memotong tali plastik, menjalinnya menjadi sebuah jalinan yang kuat, dan ada yang menggosok tali tersebut dengan sebuah sikat yang keras, proses itu, merupakan proses awal pembuatan kolektor untuk kerang mutiara bersarang,” kata Manager PT Otore Malaka, Lab Pembibitan Kerang Mutiara, Mariam.


Lebih lanjut ditambahkan wanita yang mengaku berasal dari Irian Jaya ini, setelah proses pembuatan kolektor selesai, maka kolektor-kolektor tersebut direndam dengan air selama dua hari. Ini berfungsi untuk memudahkan proses penempelan larva kerang mutiara. “Untuk menempelkan larva-larva kerang mutiara, kita membutuhkan mikroskop untuk melihat dan menempatkan larva. Karena larva-larva tersebut sangat kecil,” tambah Mariam.


Karena proses penempelan larva yang rumit, Mariam mengaku dalam sebuah laboratorium pembibitan, terdapat empat ruang utama. Ruang itu dinamakan, Ruang Persiapan, Ruang Larva, Ruang Alga dan Ruang Pompa. Berbeda dengan ruang persiapan yang masih memperlihatkan kolektor-kolektor yang masih kosong, di Ruang Larva, delapan tangki raksasa memenuhi ruangan. Tangki-tangki yang memenuhi ruangan itu, ternyata berisi jutaan larva kerang mutiara.


“Di ruang larva, semua larva ditampung selama satu bulan, satu tangki berisi 15 sampai 20 juta larva. Untuk memberi makan larva-larva tersebut, kita juga memiliki ruang khusus yang dinamakan ruang alga. Ditempat ini makanan kerang mutiara yang masih berbentuk larva dibuat dan dibudidayakan,” tambah Mariam.


Proses yang tidak kalah rumit, menurut Mariam adalah pada saat kolektor-kolektor berisi bibit-bibit kerang mutiara dilepaskan kelaut, karena tingkat kematian pada saat pemindahan ini sangat tinggi, bahkan bisa mencapai 60 persen. “Belum tentu bibit kerang mutiara yang kita pelihara di laboratorium bisa bertahan. Belum lagi termasuk gangguan ikan-ikan yang memakan kerang. Untuk itu kolektor kita lapisi dengan semacam karung goni,” kata Mariam menerangkan.


Setelah puas menyaksikan proses pembibitan kerang mutiara di dalam laboratorium, proses pembudidayaan kerang mutiara yang tidak kalah menarik adalah, mengamati proses pertumbuhan kerang di laut. “Setelah kerang cukup berukuran 5 hingga 7 cm, kerang kita pindahkan lagi kedalam kolektor yang lebih besar, jika kerang sudah memasuki ukuran 10 hingga 14 cm mereka kita pindahkan lagi. Pada ukuran seperti ini, biasanya satu kolektor hanya berisi empat kerang saja,” ujar Mariam lagi.


Berjarak lebih kurang 500 meter dari pantai, kerang-kerang mutiara yang telah dipindahkan kelaut, memang membutuhkan penjagaan yang ektra ketat. Hal itu tentu saja tidak berlebihan, karena bisnis kerang mutiara bukanlah bisnis yang tanpa resiko. “Karena faktor keamanan itulah, setiap tempat pembudidayaan kerang mutiara selalu membuat rumah terapung sebagai tempat penjagaan,” katanya lagi. (bernadette lilia nova)

Mutiara Dari Timur II


Hukum Kawi-Kawi Gili Terawangan

Siang semakin terik, mataharipun tanpa segan-segan menumpahkan sinarnya yang panas kepermukaan laut yang bening. Puas menikmati dan menyaksikan proses budidaya kerang mutiara di Teluk Kodek, perjalanan siang itu dilanjutkan dengan menumpang sebuah boat yang terbuat dari fiberglass. Karena lebih ringan dari kapal yang terbuat dari kayu dan papan, kapal yang kami tumpangi melaju kencang memecah gelombang. Perlahan namun pasti, pinggir-pinggir pantai berlari menjauh, hingga 20 menit diatas boat, tidak terasa tepianpun tidak lagi terlihat.

Seiring dengan hilangnya bibir pantai dari pandangan dibelakang kapal, sebuah gili, begitu masyarakat Lombok menyebut sebuah pulau, terhampar di depan mata. Gili atau pulau itu ternyata bernama Gili Terawangan. Setelah berlabuh ditepian, perjalanan dilanjutkan dengan berkeliling pulau. Hampir sama dengan Bali, Gili Terawangan, ternyata bukan objek wisata yang asing bagi turis-turis mancanegara. Hal ini tentu saja bisa dilihat dengan banyaknya turis berjemur di pantai, ataupun banyaknya penginapan yang berdiri di pulau kecil ini.

Untuk mengelilingi pulau yang berpenduduk hampir 200 orang ini, bisa dilakukan dengan mengendarai sebuah andong atau orang Lombok menyebutnya dengan cidomo. Atau jika ingin menikmati kebebasan, pengunjung bisa pula menyewa sebuah sepeda pancal, untuk satu kali sewa, pengunjung dikenakan biaya sebesar Rp 30 ribu.

Perjalanan mengunjungi Gili Terawangan ini, tidak akan lengkap, tanpa terlebih dahulu merasakan kesejukan air laut dengan ombak dan pecahan buih di dalamnya. Selain diving, snorkeling ditempat ini, termasuk salah satu olahraga yang banyak digemari. Apalagi ketika Sindo mencoba snorkeling ditempat ini, selain harga sewa peralatan yang murah, yaitu Rp 10 ribu untuk kacamata dan kaki katak, keindahan terumbu karang dan ikan-ikan yang berenang dikedalaman, menjadi pemandangan menarik yang tidak henti-hentinya datang silih berganti.

Selain disuguhi oleh pemandangan bawah air yang asri dengan karang, dan ikan-ikan hias yang berkejaran, snorkeling ditempat ini, juga menjanjikan kejutan menarik. Kejutan menarik tersebut juga dialami Sindo, ketika hampir 15 menit snorkeling dipantai berair bening ini. Bagaimana tidak, belum terlalu jauh meninggalkan pantai, sambil terus berenang dan tidak henti-hentinya memuji keindahan bawah laut, seekor kura-kura berdiameter hampir satu meter, terlihat tengah makan menikmati rumput-rumput laut dikedalaman. Ketenangan sang kura-kura, semakin terasa menggoda, apalagi kedatangan makhluk asing berenang diatasnya, sama sekali tidak membuat kura-kura tersebut takut, untuk terus menghabiskan makanannya.

Berenang bersama kura-kura menjadi sensasi menyenangkan, namun perjalanan harus dilanjutkan untuk memasuki pulau kecil yang terbagi dalam lima wilayah tersebut, yaitu, daerah yang dinamakan Pila Ombak, Kape, Almare, Nusa Tiga dan Balikkanan Pulau kecil itu, semakin menggoda ketika mengetahui bahwa pulau ini memiliki peraturan adatnya sendiri. Dan kepatuhan masyarakat dalam menjalankan peraturan adat yang dikenal dengan nama Aturan Kawi-Kawi, tersebut, membuat jalanan di pulau kecil ini bersih tanpa ceceran kotoran kuda diatasnya, padahal di pulau kecil ini, terdapat lebih dari 100 andong.

“Salah satu peraturan adat yang tidak bisa diabaikan adalah, bagi pemilik andong yang menjatuhkan kotoran kudanya dijalanan, mereka akan didenda sesuai dengan aturan yang berlaku. Demikian pula kalau mereka melakukan perbuatan seperti mencuri atau berzina, mereka akan diarak keliling pulau sambil meneriakkan kalau mereka telah mencuri,” kata salah satu pemilik andong di Gili Terawangan, Junaidi.

Suasana di Gili Terawangan semakin menarik, apalagi ketika matahari mulai bergeser keufuk Barat. Cahayanya yang kemerahan, membuat pulau yang juga dikenal sebagai Bali kedua di Lombok ini, tenggelam dalam suasana nan romantis. Menikmati matahari tenggelam, rasanya semakin menarik dengan ditemani oleh secangkir kopi dan sepiring kentang goreng. (bernadette lilia nova)

Mutiara Dari Timur III


Dua Gili Pengintaian Paus

Berbeda dengan Gili Terawangan yang dijadikan sebagai tempat beristirahat dan berwisata para turis, tidak demikian dengan dua gili yang kami kunjungi berikutnya. Dua gili tersebut adalah, Gili Sulat dan Gili Lawang. Di dua gili ini, sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda kehidupan manusia, hanya hembusan angin, hutan-hutan bakau yang menutupi pulau dan kicau burung-burung yang terbang dengan bebasnya di hutan yang menjadi rumah mereka. Keindahan terumbu karang dengan berbagai jenis karang di dalamnya, seakan mengundang pengunjung untuk memujinya, apalagi berbagai jenis karang beraneka warna yang terlihat dari atas kapal yang kami tumpangi.


Gili Sulat dan Gili Lawang, merupakan dua pulau yang terletak disebelah timur bagian utara Pulau Lombok. Pulau ini termasuk dalam wilayah Desa Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Berdasarkan potensi sumber daya laut yang dimilikinya, kemudian Gili Sulat dan Gili Lawang ditetapkan sebagai kawasan konservasi laut daerah. Karena banyaknya burung-burung yang bersarang di Gili Sulat, akhirnya di pulau kecil ini, dibuatlah sebuah jalan setapak dari papan, yang memudahkan para pengunjung untuk mengamati mangrove ataupun mengamati burung-burung yang riang berkicau.


Keberadaan dua pulau ditengah laut ini, menjadi semakin menarik, karena dari kejauhan dua pulau ini seakan menyatu dalam kehijauan, namun semakin mendekati dua pulau ini, sebuah selat memisahkan pulau ini, masing-masing dengan ciri khasnya masing-masing. Gili Sulat merupakan pulau yang kaya dengan mangrove, di pulau ini pulalah terdapat lebih dari 17 jenis mangrove, hal ini membuat Gili Sulat, menjadi pulau terbesar kelima di dunia dengan keanekaragaman mangrovenya. Sedangkan Gili Lawang, merupakan sebuah pulau dengan 60 persen mangrove dan sisanya merupakan lapangan terbuka, sehingga pulau ini banyak pula dikunjungi oleh pecinta atam untuk mendirikan tenda atau camping dilokasi ini.


Keberadaan dua pulau ini, semakin terkenal saja, karena pada waktu-waktu tertentu, yaitu bulan Desember dan Januari, ketika dunia bagian utara mengalami musim dingin, pulau ini menjadi tempat pengintaian bagi penduduk ataupun nelayan yang ingin menyaksikan ikan-ikan paus bermigrasi. “Paus-Paus memang bermigrasi melewati laut ini, jadi dua gili ini, menjadi salah satu tempat paling strategis untuk menyaksikan ikan-ikan raksasa itu bermigrasi,” kata Kepala Dinas Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) Lombok Timur, Aminullah.


Puas mengelilingi dua gili, yang menjadi tempat pengintaian para paus bermigrasi, rombongan kembali diizinkan untuk menikmati kesejukan air dan menyaksikan keindahan karang-karang yang hidup di dalamnya dengan berenang. Puas menikmati kesejukan dan asinnya air laut, rombonganpun akhirnya memutuskan untuk mengunjungi sebuah tempat yang tidak jauh dari pulau tersebut, tempat itu dinamakan Pondok Wisata Apung. “Rencananya untuk menggalakkan pariwisata di tempat ini, kita menyewakan sebuah rumah wisata kepada para turis, pondok wisata ini bisa disewakan entah itu jadi penginapan ataupun jadi tempat memancing,” terang Aminullah.


Menikmati makan siang setelah capek berkeliling dan berenang di pulau-pulau cantik di bagian timur Indonesia, Pondok Wisata Apung menjadi pilihan menarik. Apalagi dengan menu-menu menarik yang ditawarkan, seperti ikan panggang dengan saos tiram. Membuat perjalanan mengunjungi tiga gili di Lombok, semakin tidak terlupakan. (bernadette lilia nova)

Sabtu, 05 Januari 2008

Balai Budidaya Laut Sekotong, NTB I


Mengintip Asa Si Telinga Laut

Selain hadir dengan pesona alam nan memukau, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), ternyata menyimpan potensi sebagai penghasil Kerang Abalone atau Telinga Laut.

Pesona Lombok, dengan kehijauan alam dan birunya laut yang mengelilinginya, ternyata tidak henti menawarkan potensi lain yang terkandung didalamnya. Seperti kali ini, Sindo berkesempatan mengunjungi Balai Budidaya Laut Sekotong atau yang dikenal juga dengan istilah, Marine Aquaculture Development Center, yang beralamat di Stasiun Sekotong, Jln Raya Gili Genting, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lobar, Lombok, Nusa Tenggara Barat.


Perjalanan yang ditempuh selama dua jam dari Mataram, menjadi sebuah perjalanan yang memukau. Apalagi dengan hijaunya bukit-bukit, dan padang-padang ilalang, serta rumput meliuk tertiup angin, menjadi pesona menyejukkan yang ditawarkan sepanjang perjalanan menuju Sekotong.


Memasuki Balai Budidaya Laut ini, rombongan yang terdiri dari Pusat Data Statistik dan Informasi (Pusdatin) Departemen Kelautan dan Perikanan, disambut oleh sebuah bangunan berwarna kecoklatan. Sebuah gerbang megah terbuat dari batu, bertuliskan Balai Budidaya Laut Sekotong, terhampar megah dengan desain tradisional, seakan memancing minat para tamu untuk bergegas memasuki lokasi tempat pembudidayaan potensi laut di Lombok ini.


Selain disambut oleh keramahan alam dan hembusan angin laut yang sejuk, rombongan juga disambut hangat oleh Kepala Balai Budidaya Laut Lombok, IBM Swastika Jaya, yang siap mengantarkan rombongan mengelilingi Balai Budidaya Laut, yang dibelakangnya langsung berbatasan dengan pasir putih, dan air bening yang setia menyapu pantai.


Di Balai Budidaya Laut ini, rombongan beristirahat sejenak, sebelum menyusuri ruangan demi ruangan yang berisi berbagai jenis ikan, kerang dan potensi laut lainnya. Usai beristirahat, melepaskan penat diperjalanan, rombongan berjalan memasuki sebuah ruangan. Ruangan itu bernama ruang pembudidayaan.


Di dalam ruangan inilah, benih-benih Kuping Laut, atau Kerang Abalone (aliotis asinine) dibudidayakan. Mulai dari larva hingga kerang dewasa. Di Lombok, kerang jenis ini dikenal masyarakat dengan nama Medau atau kerang mata tujuh. “Kerang Abalone sudah sangat dikenal di Jepang, di Taiwan juga sangat terkenal. Bahkan kerang ini menjadi salah satu makanan paling mahal di Belanda,” kata IBM Swastika Jaya.


Di Indonesia saja, kerang ini cukup mahal. Untuk satu kilogramnya, si Kuping Laut ini bisa dihargai Rp 70 ribu. Sedangkan kalau sudah memasuki pasar internasional, kerang yang memiliki kandungan protein sekitar 71,99 persen ini, bisa dihargai perekor dengan harga USD 8. “Selama ini masyarakat kita, lebih banyak mencari langsung kerang ini di laut, sama sekali belum terfikirkan oleh mereka untuk membudidayakannya. Untuk itu kita mulai memberikan contoh kepada masyarakat, bahwa membudidayakan kerang abalone itu mudah. Walaupun harus menunggu agak lama untuk bisa dipanen,” kata IBM Swastika Jaya lagi.


Setelah puas mengelilingi ruang tempat pembudidayaan abalone dalam ruangan, rombongan diajak menyaksikan pembudidayaan kerang yang terletak sekitar satu kilometer dari bibir pantai. Dengan menumpang kapal motor, rombongan beranjak menuju tempat pembudidayaan kerang yang terletak di tengah laut. Dengan kedalaman lima hingga tujuh meter, kerang-kerang ini dipelihara dengan sistem keramba apung. “Kerang Abalone hidup di daerah berpasir, di keramba apung wadah pemeliharaan bisa dibuat dari kayu atau beton. Kita menerapkan dua sistem budidaya kerang ini yaitu dengan cara keramba apung dan kurungan tancap,” kata IBM Swastika Jaya.


Air yang bening dan terhindar dari berbagai zat kimia, seperti yang terdapat disekitar pantai pusat pembudidayaan, ternyata berpengaruh besar pada pertumbuhan dan kesehatan kerang. “Kerang ini sangat sensitiv dengan bahan-bahan kimia, jadi laut yang bersih dengan air yang tidak tercemar, menjadi sarana paling bagus untuk kerang ini hidup dan tumbuh. Jadi tidak semua laut bisa membudidayakan kerang ini,” terang IBM Swastika lagi.


Puas menyaksikan pembudidayaan si Kuping Laut, rombongan berkesempatan pula mengunjungi keramba apung, yang memelihara berbagai biota laut, seperti ikan kakap, lobster dan rumput laut. “Untuk makanan, Kerang Abalone kita beri rumput laut. Kalau mereka dipelihara di keramba apung atau keramba tancap, proses pertumbuhan lebih cepat, karena banyak makanan lain yang bisa mereka dapatkan, dibandingkan dengan kerang yang dipelihara di ruang pembibitan,” tambah IBM Swastika lagi.


Di tempat ini, rombonganpun memanen kerang berukuran lebih kurang 7 cm, untuk dikonsumsi sebagai lauk makan siang. Untuk memanen kerang jenis ini, ternyata cukup mudah. Rombongan cukup mengangkat satu buah keramba apung, menaikkannya keatas kapal, kemudian memilih kerang berukuran cukup besar untuk dipanen. “Selain memiliki kandungan protein yang tinggi, kerang ini cukup gurih untuk dikonsumsi, walaupun hanya direbus saja,” aku Swastika. (bernadette lilia nova)

Balai Budidaya Laut Sekotong, NTB II


Gurihnya Sup Abalone

Menikmati hasil panen, memang terasa belum lengkap sebelum mencoba mencicipi rasanya ketika dimasak. Itu pula yang dilakukan oleh rombongan usai memanen abalone di keramba apung, Balai Budidaya Laut Lobar. Setelah hampir dua jam tersengat panasnya matahari di tengah laut, rasa lapar dan haus-pun mulai menggoda perut. Tidak heran jika sajian sup abalone menjadi pilihan menarik. Apalagi bagi yang belum pernah mencoba, sup abalone, tentu saja menjadi sebuah menu baru yang cukup menggugah selera.


Untuk memasak abalone menjadi makanan yang nikmat dikonsumsi, ternyata tidak membutuhkan berbagai macam bumbu masak. Karena dengan sedikit bumbu saja, kerang ini sudah terasa cukup nikmat, ketika dimakan dengan sepiring nasi ataupun sepotong ketupat. Agar Kerang Abalone yang dimasak terasa lebih empuk lagi, kerang ini harus direbus terlebih dahulu selama 25 menit. “Untuk sup abalone kali ini kita hanya menggunakan sedikit bumbu masak, ditambah bawang merah dan bawang putih dan sedikit garam,” kata Koordinator Pakan Balai Budidaya Laut Lombok Sunarti.


Walaupun sudah dimasak menjadi sup, ternyata abalone masih tetap berukuran besar dan tidak mengecil seperti kerang-kerang lainnya, sehingga untuk sepuluh ekor kerang, bisa menghasilkan satu mangkok besar sup abalone. “Kalau orang-orang barat atau Jepang, lebih menyukai abalone tanpa bumbu. Cukup direbus hingga empuk ditaburi sedikit garam. Itu membuat rasa asli abalone yang gurih terasa dilidah,” terang Sunarti menambahkan.


Lebih lanjut ditambahkan Sunarti, berbeda dengan kerang-kerang lainnya, yang walaupun sudah direbus, namun masih meninggalkan bau amis yang tidak enak, abalone sama sekali tidak berbau. “Abalone ini bisa juga dikonsumsi dengan menggunakan saos, selain dibikin sup, abalone bisa juga dijadikan sate yang nikmat. Tergantung selera masing-masing. Tapi kalau saya menyukai abalone dengan rasa asli, hanya direbus saja,” aku Sunarti lagi. (bernadette lilia nova)

Balai Budidaya Laut Sekotong, NTB III



Memandikan Ikan Napoleon
Birunya air laut, dan kesejukan angin yang berhembus, terasa lebih sempurna ketika usai menikmati sop abalone yang gurih. Namun perjalanan tidak berhenti hingga disitu saja. Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi tempat pemeliharaan biota-biota laut. Mulai dari berbagai jenis kerang, ikan-ikan langka hingga lobster. Di tempat ini, berdiri puluhan bak-bak pemeliharaan, yang langsung memompakan air laut kedalam setiap bak.

Dari sekian banyak biota laut yang dipelihara dipusat pemeliharaan tersebut, salah satu sajian paling menarik yang terlihat, adalah proses memandikan Ikan Napoleon. Walaupun mayoritas hidup Ikan Napoleon berada di lautan, namun ikan mahal yang dihargai dengan harga Rp 800 ribu untuk satu kilogramnya ini, ternyata juga perlu dimandikan.

Berbeda dengan memandikan binatang peliharaan lainnya, seperti anjing atau kucing, yang butuh shampo ataupun salon kecantikan, tidak demikian dengan Ikan Napoleon. Untuk menghilangkan virus ataupun jamur yang terdapat pada sisik, ikan yang bisa berukuran lebih dari dua meter tersebut, hanya butuh satu bak air tawar. Di dalam bak air tawar inilah, kemudian satu demi satu Ikan Napoleon dimasukkan, dan digosok-gosok dengan tangan. “Dalam satu bulan, Ikan Napoleon biasanya kita mandikan dua kali. Ini untuk mencegah berkembangnya virus ataupun kutu-kutu ikan,” kata Koordinator Fin Fish Balai Budidaya Laut Sekotong Sarwono, ditemui ketika sedang memandikan ikan.

Sedangkan untuk menjaga agar ikan tidak stress ketika dimandikan karena berada di air tawar, Suwarno mengaku waktu yang dibutuhkan untuk memandikan ikan di air tawar, hanya tiga hingga lima menit. Lebih dari itu, ikan akan stress. Selain dimandikan dengan air tawar, ternyata Ikan Napoleon juga membutuhkan perawatan khusus, agar tetap sehat ketika berada dalam kolam pemeliharaan. “Selain dimandikan, Ikan Napoleon juga mengonsumsi vitamin. Biasanya kita memberikan vitamin E yang diambil dari Natur E,” terangnya.

Berbeda dengan cara manusia mengkonsumsi vitamin atau obat-obatan, yang cukup diminum dengan air, untuk Ikan Napoleon pemberian vitamin harus dengan taktik tersendiri, agar vitamin tidak terbuang sia-sia. “Karena ikan ini biasanya memakan cumi-cumi, ataupun ikan segar, jadi di dalam cumi-cumi atau ikan tersebut kita sisipkan vitamin E,” terang Suwarno.
Selain pemberian Vitamin E, ternyata perawatan Ikan Napoleon tidak berhenti hingga disitu saja, karena dua kali dalam satu minggu, ikan ini juga harus diberi multivitamin tambahan, yaitu BK-505. “Natur E biasanya kita berikan setiap Jumat, sedangkan BK-5O5, kita berikan setiap Senin dan Rabu,” ujarnya.

Vitamin dan multivitamin yang diberikan tersebut, ternyata sangat bermanfaat, karena ikan ini termasuk jenis yang sangat rawan terkena bakteri dan virus. Virus-virus yang menyerang tersebut seperti kutu atau dikenal dengan Argulus dan cacing Benedenia yang menyerang mata. “Biasanya cacing atau kutu akan hilang, ketika ikan dimandikan dan diberi vitamin atau multivitamin,” kata Suwarno. (bernadette lilia nova)

Balai Budidaya Laut Sekotong, NTB IV


Menanam Rumput Laut

Selain disuguhi berbagai kegiatan menarik, Balai Budidaya Laut Lobar, ternyata juga menyimpan potensi lain, yang tidak kalah menggoda. Yaitu sebagai salah satu tempat budidaya rumput laut. Di tempat ini, terdapat sembilan jenis rumput laut dan menjadi salah satu pusat pembudidayaan rumput laut terbesar kedua di dunia.

Sembilan varietes rumput laut itu adalah, Cotoni, Tembalang Merah, Tembalang Hijau, Saccul, Philipina Merah, Philipina Hijau, Rumput Maumere, Spinoium dan Ptilophora. Dari sembilan jenis rumput laut, varietes yang paling terkenal dan menjadi salah satu bahan pokok pembuatan kertas adalah jenis Ptilophora. Untuk pembudidayaan rumput jenis ini, juga tidak terlalu sulit, setelah benih rumput laut diikat dengan tali, kemudian ditenggelamkan hingga kedalaman lima meter dengan sistem patok dasar.

Walaupun tergolong mudah proses pembudidayaannya, rumput laut jenis Ptilophora ini, membutuhkan suhu 26 OC, dan harus berada ditengah air berarus. “Untuk pembudidayaan rumput laut bahan baku kertas ini, kita bekerjasama dengan Korea. Rencananya kita akan menanamnya di areal seluas 500 hektar diseluruh Indonesia,” kata Koordinator Rumput Laut Balai Budidaya Laut Lobar Rusman.

Untuk memudahkan proses penanaman rumput laut, waktu yang paling tepat, adalah ketika pagi hari. Pada saat ini, air laut sedang surut sehingga memudahkan para penanam rumput laut bekerja. Sedangkan pada siang hari, air mulai naik sehingga para petani menyudahi aktifitasnya dan bekerja di tempatnya masing-masing untuk membersihkan hasil panen, menjemur maupun mengikat bibit untuk ditanam keesokan Harinya.

“Berbeda dengan rumput laut jenis lainnya, yang bisa dipanen ketika berumur 40 hari, rumput laut jenis Ptilophora baru bisa dipanen ketika berusia 70 hari. Karena rumput laut ini pertumbuhannya lebih lama dibandingkan dengan jenis lain. Namun harganya lebih mahal,” ungkap Rusman menerangkan.

Untuk mendapatkan kualitas rumput laut yang baik, Balai Pembudidayaan Laut Sekotong, juga menerapkan penelitian untuk pengujian di laboratorium. Baik dari bibit hingga kualitas perairan. “Penelitian sangat penting, karena kita bisa mengetahui bagaiman proses budidaya yang terbaik. Sehingga kalau ada kendala di lapangan bisa segera teratasi,” kata dia. (bernadette lilia nova)